Nah sebelum kita membahas topik yang satu ini. Pertama tama pengertian Revolusi Industri. Revolusi industri adalah perubahan cepat di bidang ekonomi dan produksi berupa peningkatan efisiensi yang menyebabkan pengaruh ke bidang-bidang kehidupan lainnya. Hingga sekarang ini telah terjadi 4 kali revolusi industri mulai dari revolusi industri 1.0, dan sekarang ini yang sedang terjadi yaitu revolusi 4.0. Revolusi industri pertama ditandai dengan dipergunakannya mesin untuk mempermudah pekerjaan. Pada revolusi industri kedua mulai diberlakukannya produksi massal. Revolusi industri ketiga ditandai dengan adanya komputer dan automatisasi industri. Dan revolusi industri keempat ini ditandai dengan munculnya cyber physical system.
Revolusi Industri 4.0
Revolusi Industri 4.0 merupakan revolusi industri keempat. Pada revolusi industri keempat ini diperkenalkannya istilah machine learning, yaitu mesin yang memiliki kemampuan untuk belajar, yang bisa sadar bahwa dirinya melakukan kesalahan sehingga melakukan koreksi yang tepat untuk memperbaiki hasil berikutnya. Namun, machine learning ini masih masih terbatas untuk melakukan hal-hal tertentu. Di indonesia, revolusi industri ini sangat mempengaruhi setiap bidang kehidupan. Contoh yang dapat kita lihat sehari hari yaitu adanya ojek online, online shopping, dan diberlakukannya uang elektronik. Namun, selain memiliki dampak yang positif, dampak negatif dari revolusi industri 4.0 ini juga tidak dapat dihindarkan. Tidak hanya Indonesia, negara-negara maju seperti Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat saja masih terus menerus memperdebatkan konsekuensi dari revolusi industri keempat ini, karena revolusi ini masih berlangsung atau bahkan dapat dibilang baru dimulai.
Melalui revolusi industri 4.0, dengan dukungan kemajuan pesat di bidang teknologi, akan membawa kita pada transisi revolusi teknologi yang secara fundamental akan mengubah cara hidup, cara kerja, dan relasi organisasi dalam berhubungan satu dengan yang lain. Revolusi industri 4.0 dicirikan oleh fusi berbagai teknologi yang mengaburkan batas dunia fisik, digital, dan biologi, dibangun berdasarkan asumsi dan perkembangan terakhir ekspansi horizontal teknologi digital yang meliputi cyber physical system (CPS), Internet of Thinks (IoT) big data, intelegensia buatan, robotik, serta aspek praktis yang mengikutinya, termasuk pabrik cerdas, 3D printing, otomatisasi, organisasi, kerja sama, mobilitas, distribusi, pasar, dan keterbukaan informasi berbasis digital.
Di balik gegap-gempita dan ingar-bingar dan antusiasme kalangan pemikir aliran optimisme menyambut revolusi industri 4.0, dan sebagaimana layaknya sebuah revolusi, diperkirakan revolusi industri 4.0 menyimpan jebakan yang sangat penting untuk diantisipasi. Hasil riset McKinsey & Company memperkirakan 47% pekerjaan akan menghilang dalam seperempat abad mendatang. Robot dan kecerdasan buatan bahkan menyingkirkan pekerjaan 800 juta tenaga kerja di seluruh dunia pada tahun 2030.
Berbagai profesi juga akan menghilang, digantikan oleh kegiatan mesin. Teknologi canggih ini juga akan menyebabkan marginalisasi sejumlah kelompok, memperbesar kesenjangan ekonomi, memunculkan risiko keamanan, dan merusak hubungan antarmanusia. Tanpa persiapan dan antisipasi yang terarah, terencana dan berkelanjutan, efek negatif tersebut akan merusak optimisme Bali di dalam melanjutkan pembangunan serta upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali. Pembanguan Bali saat ini dan pada masa yang akan datang, masih tidak lepas kaitannya dengan pembangunan tiga strategi sektoral yaitu, pembanguan pertanian dalam arti luas, pembangunan pariwisata dan pembangunan industri kecil, yang dilaksanakan konsisten berbasis budaya dan lingkungan.
Revolusi industry 4.0 juga akan berdampak pada industry pariwisata. Dampak yang dapat ditimbulkan seperti : touring guide digantikan guide berbasis aplikasi, penjual sovenir pariwisata digantikan toko online, pasukan kuning kebersihan digantikan tempat sampah pintar, layanan resepsionis perhotelan digantikan robot, robot pembersih lantai yang disediakan di tempat-tempat umum, layanan parkir valet menggunakan robot otonom yang menerbangkan mobil ke tempat parkir,
Satu hal yang pasti bahwa ketika revolusi itu tiba, otomatisasi dari hulu ke hilir bisnis pariwisata yang dikenal padat karya akan habis dirambahnya.
Fungsi guide akan diganti aplikasi di mana peta penuntun, narasi, sampai sovenir khas sebuah destinasi dapat diakses dan dibelanjakan dari ponsel pintar. Kita tidak perlu terkejut dengan fenomena ini karena di beberapa kota di Indonesia sudah mulai diterapkan.Aplikasi Siji AR misalnya, hadir sebagai pengganti tour guide untuk semua museum di Indonesia. Begitu pula Aplikasi Mobile Tourism Guide di Kota Malang dan Kota Batu. Kini di Bali, Aplikasi Bali Tour Guide sudah dikembangkan untuk perangkat android yang memberikan informasi mengenai objek-objek wisata di pulau Bali.